Siapa Pemilik Indonesia?

Data Kelas, Kekayaan & Alat Produksi Strategis 2025

Siapa sebenarnya yang menguasai ekonomi Indonesia? Berapa banyak kekayaan nasional yang terkonsentrasi di tangan segelintir orang? Website ini menyajikan data resmi dari BPS, Credit Suisse, dan lembaga riset terpercaya — divisualisasikan agar mudah dipahami siapa pun, tanpa perlu latar belakang ekonomi.

Metodologi, Definisi & Batasan Data (klik untuk buka)

Definisi Operasional

  • Kelas ekonomi (BPS) — diklasifikasikan berdasarkan pengeluaran per kapita per bulan, bukan pendapatan atau kepemilikan aset. Ambang batas: Miskin < Rp 400rb, Rentan Rp 400-600rb, Aspiring Rp 600rb-1,2jt, Menengah Rp 1,2-6jt, Atas > Rp 6jt.
  • Gini Ratio (BPS) — mengukur ketimpangan distribusi pengeluaran konsumsi, bukan pendapatan atau kekayaan. Skala 0 (sempurna merata) sampai 1 (satu orang menguasai semua).
  • Kekayaan/wealth (Credit Suisse, WID) — mengukur total aset bersih (properti + finansial - utang). Metodologi berbeda dari BPS yang mengukur pengeluaran.
  • Kelas Marxist — klasifikasi berdasarkan relasi terhadap alat produksi (pemilik modal vs penjual tenaga kerja). Tidak ada data resmi BPS untuk ini — estimasi di halaman ini menggunakan proxy tidak langsung.

Perbedaan Antar Sumber

  • BPS (2025) — survei rumah tangga nasional (Susenas), sampel ~300.000 RT. Mengukur pengeluaran. Kekuatan: cakupan nasional, konsisten antar tahun. Kelemahan: tidak menangkap kekayaan/aset.
  • Credit Suisse Global Wealth (2016) — estimasi kekayaan bersih per orang dewasa berdasarkan model ekonometrik + data survei. Data Indonesia terakhir yang komprehensif dari sumber ini adalah 2016. Angka "1% = 49%" berasal dari tahun tersebut dan mungkin sudah berubah.
  • World Inequality Database/WID (2024) — menggabungkan data pajak, survei, dan national accounts. Metodologi berbeda dari Credit Suisse sehingga angka "1% = 21,3%" (WID) vs "1% = 49%" (CS) tidak saling bertentangan — mereka mengukur hal yang sedikit berbeda (income share vs wealth share).
  • Forbes (2025) — daftar kekayaan individu berdasarkan valuasi aset publik (saham, properti). Tidak mencakup kekayaan tersembunyi atau aset non-publik.
  • Mandiri Institute (2025) — riset internal Bank Mandiri menggunakan data BPS + model sendiri untuk segmentasi kelas menengah.

Batasan & Peringatan

  • Data lintas tahun — halaman ini menggabungkan data dari 2016 (Credit Suisse), 2023 (Sensus Pertanian), 2024 (WID), dan 2025 (BPS, Forbes). Perbandingan langsung antar sumber perlu kehati-hatian karena metodologi dan tahun berbeda.
  • Estimasi kelas Marxist bersifat ilustratif — angka "~28 juta borjuasi" atau "~157 juta proletariat" adalah perkiraan kasar berbasis proxy, bukan hasil sensus. Tidak ada data resmi yang memetakan kelas berdasarkan relasi produksi.
  • Korelasi ≠ kausalitas — data konsentrasi kekayaan dan penyusutan kelas menengah disajikan berdampingan, tapi hubungan sebab-akibat antar keduanya memerlukan analisis ekonometrik yang lebih mendalam.
  • Konteks positif — Indonesia mengalami penurunan kemiskinan absolut signifikan dalam 20 tahun terakhir (dari 16,7% di 2004 ke 8,25% di 2025) dan ekspansi konsumsi riil. Data ketimpangan di halaman ini tidak meniadakan pencapaian tersebut.
  • Istilah "oligopoli" vs "monopoli" — sebagian besar sektor yang disebut di sini bersifat oligopoli (dikuasai beberapa pemain), bukan monopoli murni (satu pemain tunggal), kecuali disebutkan secara spesifik.
  • Framing editorial — halaman ini menggunakan kerangka ekonomi-politik (termasuk analisis Marxian) sebagai salah satu lensa interpretatif. Ini bukan satu-satunya cara membaca data. Pembaca dianjurkan membandingkan dengan perspektif lain (neoklasik, institusionalis, dll) untuk gambaran yang lebih lengkap.

Cara Membaca Data di Halaman Ini

Halaman ini menggabungkan data dari beberapa sumber yang mengukur hal berbeda:

  • BPS (Susenas) mengukur pengeluaran konsumsi — berapa yang dibelanjakan per bulan. Ini basis klasifikasi miskin/rentan/menengah/atas.
  • World Inequality Database (WID) mengukur distribusi pendapatan dan kekayaan — siapa mendapat berapa dari total ekonomi nasional.
  • Credit Suisse Global Wealth mengukur kekayaan bersih per individu (aset - utang). Data Indonesia terakhir: 2016.
  • Forbes Rich List mengukur kekayaan individu ultra-kaya berdasarkan valuasi aset publik — tidak mencakup kekayaan tersembunyi.

Setiap sumber memiliki keterbatasan metodologis. Angka dari sumber berbeda tidak bisa dibandingkan langsung tanpa memahami apa yang diukur. Halaman ini menyajikan data apa adanya dari masing-masing sumber — bukan sebagai kebenaran absolut, melainkan sebagai potret parsial dari berbagai sudut pandang.

288,3 Juta
Total Penduduk Indonesia
Data Registrasi 2025
46,7 Juta
Kelas Menengah
16,20% (Mandiri Institute 2025)
↓ Menurun dari 21,45% (2019)
139,49 Juta
Kelas Menengah Rentan (Aspiring)
48,27%
23,36 Juta
Penduduk Miskin
8,25% (BPS Sept 2025)
0,363
Gini Ratio Nasional
Ketimpangan Sedang (BPS Sept 2025)
↓ Turun dari 0,381 (2019)
← geser untuk lihat semua →

Distribusi Kelas Ekonomi

Tren Kelas Menengah Indonesia (2019-2025)

Mengapa Kelas Menengah Menyusut?

Proporsi kelas menengah turun dari 21,45% (2019) ke 17,13% (2025). Ini bukan sekadar efek satu peristiwa, melainkan akumulasi masalah struktural dalam kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia:

1. Pertumbuhan yang Tidak Cukup Inklusif

Ekonomi Indonesia tumbuh rata-rata 5%/tahun, tapi hasilnya tidak dirasakan merata. Lebih dari separuh pekerja (58%, BPS 2024) bekerja di sektor informal — tanpa kontrak tetap, tanpa BPJS, tanpa jaminan kenaikan gaji. Bahkan pekerja formal pun gajinya sering naik lebih lambat dari kenaikan harga kebutuhan sehari-hari: pangan, kontrakan, sekolah anak, dan transportasi.

2. Kenaikan Biaya Hidup vs Stagnasi Pendapatan

Angka inflasi resmi mungkin terlihat terkendali, tapi harga-harga yang paling membebani kelas menengah — kontrakan/cicilan rumah, biaya sekolah, dan ongkos transportasi — naik jauh lebih cepat dari gaji. Akibatnya, banyak keluarga yang secara statistik masih "kelas menengah" sebenarnya sudah kesulitan menabung atau bahkan memenuhi kebutuhan bulanan.

3. Pandemi Mengekspos Kerapuhan Struktural

COVID-19 bukan penyebab tunggal, tapi memperlihatkan betapa rapuhnya banyak keluarga yang selama ini dianggap "kelas menengah". Tanpa tabungan yang cukup dan tanpa jaring pengaman sosial yang kuat, kehilangan penghasilan 2-3 bulan saja sudah cukup membuat mereka turun kelas. Ini menunjukkan bahwa banyak orang sebenarnya hanya sedikit di atas garis batas — bukan benar-benar mapan.

4. Akses terhadap Aset Produktif Semakin Sulit

Ada perbedaan penting antara ketimpangan belanja dan ketimpangan kepemilikan aset. Angka Gini Indonesia (0,379) hanya mengukur seberapa timpang pengeluaran sehari-hari — dan terlihat "sedang". Tapi kalau yang diukur adalah siapa yang punya rumah, tanah, saham, dan deposito, ketimpangannya jauh lebih ekstrem: 1% orang terkaya menguasai ~45% kekayaan nasional (Credit Suisse 2024). Kelas menengah semakin sulit punya rumah sendiri karena harga properti naik 2-3x lebih cepat dari gaji, sementara investasi (saham, reksadana) masih didominasi kelompok atas.

Mayoritas yang "turun kelas" tidak jatuh miskin, melainkan bergeser ke "aspiring middle class" (pengeluaran di bawah Rp 2,04 juta/kapita/bulan). Namun implikasinya serius: kelas menengah menyumbang ~60% konsumsi domestik. Penyusutannya bukan hanya soal statistik — ini sinyal bahwa model pertumbuhan Indonesia perlu bergeser dari sekadar mengejar angka PDB ke memastikan kualitas pertumbuhan yang memperluas akses terhadap pekerjaan layak, aset produktif, dan perlindungan sosial.

Catatan Metodologis

Klasifikasi "kelas menengah" BPS berbasis pengeluaran konsumsi, bukan kepemilikan aset atau relasi produksi. Implikasinya: posisi kelas ini bersifat fluktuatif — dari 57,33 juta (2019) menjadi 46,7 juta (2025), penurunan ~10,6 juta orang dalam 6 tahun. Pandemi COVID-19 memperlihatkan kerapuhan kategori ini: tanpa buffer aset yang memadai, penurunan pendapatan sementara sudah cukup menggeser posisi kelas konsumsi seseorang.

Analisis Marxist

Analisis Kelas Berdasarkan Kerangka Marxist

Relasi terhadap Alat Produksi

Klasifikasi BPS menggunakan pengeluaran konsumsi (lihat Metodologi di atas). Pendekatan Marxist berbeda — yang dilihat adalah: siapa yang memiliki alat produksi, dan siapa yang menjual tenaga kerja?

Kelas Marxist Definisi Estimasi (Juta) Proxy Data BPS
🔴 Borjuasi Besar / Oligarki Pemilik konglomerat, bank, tambang, media — hidup dari profit, sewa, bunga dalam skala dominan ~0,01-0,1* Sebagian kecil Kelas Atas (pemilik usaha berskala nasional/multinasional)
🟠 Borjuasi Kecil (Petty Bourgeoisie) Pemilik UMKM yang juga bekerja sendiri — punya alat produksi tapi skala kecil ~25-35* Sebagian Kelas Menengah + Rentan (pemilik usaha mikro-kecil)
🟡 Professional-Managerial Class (PMC) Dokter, eksekutif, manajer, akademisi — bergaji tinggi tapi bukan pemilik modal, menjalankan fungsi kontrol atas nama borjuasi ~15-25* Sebagian Kelas Atas + Menengah (profesional bergaji tinggi, bukan pemilik usaha)
🔵 Proletariat (Working Class) Tidak punya alat produksi, menjual tenaga kerja — formal (buruh pabrik, karyawan) maupun informal (ojol, pedagang kaki lima, buruh harian) ~150-180* Pekerja formal + informal yang tidak memiliki usaha sendiri
⚫ Lumpenproletariat Di luar sistem produksi formal — pengangguran kronis, pekerja sangat marginal ~20-25* Sebagian Miskin + Rentan Miskin (yang tidak terlibat produksi)

*Angka dalam rentang karena tidak ada data resmi yang memetakan kelas berdasarkan relasi produksi. Estimasi menggunakan proxy dari data BPS (status pekerjaan, kepemilikan usaha) dan bersifat ilustratif, bukan definitif.

Catatan Penting

Tabel di atas adalah perkiraan kasar. Contoh ketidakcocokan dengan klasifikasi BPS: dokter spesialis bergaji Rp 50 juta/bulan masuk "kelas atas" BPS, tapi bukan pemilik modal — mereka masuk PMC. Pemilik warung kecil bisa masuk "rentan miskin" BPS karena pengeluarannya rendah, padahal secara Marxist mereka borjuasi kecil (punya alat produksi sendiri).

Kepemilikan Alat Produksi

Distribusi Kepemilikan Alat Produksi di Indonesia

Kepemilikan alat produksi strategis Indonesia, tambang, sawit, perbankan, media, pangan terkonsentrasi pada sejumlah kecil konglomerat domestik dan korporasi asing.

10% terkaya menguasai ~60,4% total kekayaan nasional (WID 2024), sementara 50% terbawah memiliki ~3-4% (Credit Suisse 2016). Ketimpangan kepemilikan aset jauh lebih tinggi dibanding ketimpangan konsumsi yang diukur Gini Ratio.

1. Konsentrasi Kekayaan (2025-2026)

Gini Ratio nasional: 0,363 (BPS Sept 2025). Angka ini terlihat "sedang", tapi perlu dicatat bahwa Gini kepemilikan aset/kekayaan jauh lebih tinggi.

  • 1% terkaya menguasai ~49% total kekayaan nasional (Credit Suisse 2016, wealth share) / 21,3% total pendapatan (WID 2024, income share) — angka berbeda karena mengukur hal berbeda
  • 10% terkaya menguasai ~60,4% total kekayaan (World Inequality Database 2024)
  • 50% terbawah hanya punya ~3-4% total kekayaan (Credit Suisse 2016)

Sumber: Oxfam/Credit Suisse Global Wealth Databook 2016; World Inequality Database (WID) 2024. Catatan: data CS dari 2016 mungkin sudah berubah — digunakan karena belum ada pembaruan komprehensif untuk Indonesia. WID mengukur income share, CS mengukur wealth share.

2. Kepemilikan Tanah (Alat Produksi Utama)

  • 62% rumah tangga petani punya lahan <0,5 hektar (petani gurem) — BPS Sensus Pertanian 2023
  • ~60% lahan perkebunan sawit dikuasai korporasi besar (BPS 2022)
  • Sawit: ~31% lahan dikuasai 25 grup konglomerat (TUK Indonesia/BankTrack)
  • Rata-rata petani kecil: 0,2-0,3 ha vs korporasi: ribuan-jutaan ha

Sumber: BPS Sensus Pertanian 2023; BPS Statistik Kelapa Sawit 2022; TUK Indonesia/BankTrack 2014

3. Kepemilikan Industri & Korporasi

  • Sektor perbankan: 10 bank terbesar menguasai ~66% total aset perbankan (IMF FSAP 2024)
  • 4 bank BUMN (BRI, Mandiri, BNI, BTN) = 43% aset sektor perbankan
  • Sektor ritel, telekomunikasi, properti: oligopoli 3-5 pemain

Sumber: IMF Financial Sector Assessment Program 2024; OJK Statistik Perbankan Indonesia

Siapa Konkretnya?

Data makro di atas menunjukkan seberapa timpang distribusinya. Tabel berikut menjawab pertanyaan: siapa saja yang menguasai alat produksi strategis tersebut — nama, grup, dan aset spesifik mereka.

📋 Tabel Pemilik Alat Produksi Strategis Indonesia

Data berikut menunjukkan konsentrasi kepemilikan alat produksi strategis di tangan segelintir konglomerat dan korporasi asing. Disusun per sektor untuk memperlihatkan bahwa di setiap sektor, hanya 2-5 nama yang muncul berulang.

Pertambangan & Energi

Sub-Sektor Pemilik/Grup Aset Utama Skala Dominasi
Emas & TembagaFreeport-McMoRan (AS)Grasberg — tambang emas terbesar dunia49% saham, revenue $25.5B
MIND ID (Negara)Antam, Timah, Bukit Asam, Inalum51% Freeport, aset Rp 165.68T
Agoes Projosasmito (Amman Mineral)Batu Hijau (NTB) — tembaga & emasTambang tembaga terbesar #2 RI
NikelTsingshan (China)Morowali Industrial Park (IMIP)Produsen nikel #1 RI, 85.000 pekerja
PT Vale (Brasil)Tambang nikel SulawesiProdusen #2
Lim Hariyanto (Harita Group)Nikel Halmahera, Cita Mineral InvestindoProdusen nikel major, kekayaan $7.2B
Batu BaraThohir/SoeryadjayaAlamTri Resources (Adaro)Top-3 produsen, revenue $3.5B
Bakrie GroupBumi Resources, Kaltim Prima Coal, ArutminTop-3 produsen
Sinarmas/WidjajaBerau Coal, Golden Energy MinesMajor producer
Low Tuck KwongBayan ResourcesKekayaan $24.9B dari batu bara
Minyak & GasChevron (AS)Blok Rokan, Minas, Duri~40% produksi minyak mentah RI
ExxonMobil (AS)Blok CepuCadangan 600 juta barel
TotalEnergies (Prancis)East Mahakam, KalimantanMajor operator
MedcoEnergi (Panigoro)Multi-PSC nasionalSwasta nasional terbesar, revenue $2.25B
PetrokimiaPrajogo PangestuBarito Pacific, Chandra AsriTerbesar RI, orang terkaya #2 ($39.8B)

🌴 Perkebunan, Kehutanan & Pangan

Sub-Sektor Pemilik/Grup Aset Utama Skala Dominasi
SawitSinarmas/WidjajaGolden Agri-Resources, PT SMARTTop-3 dunia, 170.700 karyawan
Wilmar (Singapura)25 refinery di IndonesiaRevenue $73.4B global
Salim (Anthoni Salim)IndoAgri/Salim Ivomas, ~1.000 km²Major producer
Astra/Jardine (Inggris)Astra Agro LestariMajor producer
Tanoto (RGE)Asian Agri, Apical Group1 juta ton CPO/tahun
Pulp & KertasSinarmas/WidjajaAsia Pulp & Paper (APP)2 grup kuasai ~80% industri pulp RI
Tanoto (RGE)APRIL — 2.8 juta ton/tahun
Pangan & RitelSalim (Anthoni Salim)Indofood, Bogasari, Indomaret (21.000+ toko)Posisi dominan mie instan (~70% pasar) + tepung terigu (~60%)
Djarum/HartonoSupra Boga, MilkLife dairyDiversifikasi pangan
CT Corp (Chairul Tanjung)Transmart hypermarketJaringan ritel besar

🏦 Perbankan, Media & Telekomunikasi

Sub-Sektor Pemilik/Grup Aset Utama Skala Dominasi
PerbankanDjarum/HartonoBank Central Asia (BCA)Bank swasta terbesar, market cap #1 IDX
CT Corp (Chairul Tanjung)Bank Mega, Bank AlloTop-15 bank
Sinarmas/WidjajaBank Sinarmas, Sinar Mas MultiarthaBank + asuransi + sekuritas
Lippo/RiadyNobu Bank+ Matahari, Hypermart
Tahir (Mayapada Group)Bank Mayapada, RS MayapadaPerbankan + kesehatan swasta
Media (TV FTA)MNC/TanoesoedibjoRCTI, MNCTV, GTV, iNewsJaringan FTA terbesar (4 channel)
CT Corp (Chairul Tanjung)Trans TV, Trans7, CNN ID, DetikTop-5 FTA + portal berita #1
Bakrie Groupantv, tvOne, viva.co.id2 channel nasional
TelekomunikasiSinarmas/WidjajaXLSmart (34.8% saham)Operator seluler #3
Djarum/HartonoSarana Menara NusantaraInfrastruktur tower nasional

🚗 Otomotif, Properti & Kesehatan

Sub-Sektor Pemilik/Grup Aset Utama Skala Dominasi
OtomotifAstra/Jardine Matheson (Inggris)Toyota, Daihatsu, Honda Motor~55% market share otomotif RI
Salim (Anthoni Salim)Indomobil (Suzuki, Nissan, Hino)Distributor #2
PropertiSinarmas/WidjajaBSD City, Kota DeltamasDeveloper terbesar
Lippo/RiadyLippo Karawaci, Meikarta, Lippo MallsTownship + mall developer
CT Corp (Chairul Tanjung)Trans Studio, Trans PropertyTheme park + properti
Ciputra GroupCitraLand, CitraGarden, 80+ proyekDeveloper legendaris, 11 kota
KesehatanLippo/RiadySiloam HospitalsRS swasta terbesar di Indonesia

Konsentrasi Kekayaan — Forbes 2025

# Nama Kekayaan Sektor Utama
1Hartono bersaudara$43.8 MiliarBCA, Djarum, Blibli
2Prajogo Pangestu$39.8 MiliarPetrokimia, Barito Pacific
3Keluarga Widjaja$28.3 MiliarSawit, kertas, batu bara, bank
4Low Tuck Kwong$24.9 MiliarBatu bara (Bayan Resources)
5Anthoni Salim$13.6 MiliarPangan, perbankan, infrastruktur

Ringkasan Konsentrasi

  • Top 10 orang terkaya = ~$195.8 Miliar total kekayaan (Forbes 2025). Sebagai pembanding: menurut Credit Suisse Global Wealth Report 2021, median kekayaan per kapita Indonesia ~$1.548 — sehingga total kekayaan bottom 50% (~142 juta orang) diperkirakan ~$110 Miliar, jauh di bawah kekayaan 10 individu tersebut.
  • Pulp & kertas: 2 grup (Sinarmas + Tanoto) kuasai ~80% kapasitas produksi pulp nasional (APKI/Asosiasi Pulp & Kertas Indonesia, 2023)
  • Otomotif: 1 grup (Astra/Jardine) kuasai ~55% penjualan mobil (Gaikindo, data penjualan 2024)
  • TV Free-to-Air: 3 grup (MNC, CT Corp, Bakrie) menguasai seluruh channel FTA utama nasional (KPI/Komisi Penyiaran Indonesia)
  • Minyak mentah: 1 perusahaan asing (Chevron) = ~40% produksi (SKK Migas, Laporan Tahunan 2024)
  • Nikel: 1 perusahaan China (Tsingshan/IMIP) = produsen terbesar (ESDM/Kementerian ESDM 2024)
  • Mie instan + tepung: 1 grup (Salim/Indofood) = posisi dominan (~70% mie instan, ~60% tepung terigu) (Nielsen Retail Audit 2023; Aptindo 2023)
  • 4 orang terkaya (Oxfam 2017): kekayaan gabungan melebihi total kekayaan bottom 40% populasi (~100 juta orang). Metodologi Oxfam menggunakan data Credit Suisse wealth distribution, termasuk individu dengan net worth negatif (utang > aset).

🔻 Kesimpulan: Struktur Kelas Riil Indonesia

Kepemilikan alat produksi strategis Indonesia terkonsentrasi pada tiga aktor utama: konglomerat domestik (20-30 grup besar), korporasi asing (Freeport, Jardine, dll), dan BUMN. Sisanya ~283 juta orang adalah kelas pekerja dalam berbagai spektrum — dari proletariat formal hingga lumpenproletariat (lihat tabel analisis kelas Marxist untuk breakdown lengkap).

Konteks Penting: Pencapaian yang Tidak Boleh Diabaikan

Data ketimpangan kepemilikan perlu dibaca bersama fakta bahwa Indonesia berhasil menurunkan kemiskinan absolut secara signifikan — dari 16,7% (2004) ke 8,25% (2025). Konsumsi riil masyarakat juga meningkat, akses pendidikan dan kesehatan meluas, dan infrastruktur berkembang pesat. Pertumbuhan ekonomi memang menghasilkan manfaat nyata bagi banyak orang. Masalahnya bukan pertumbuhan itu sendiri tidak berguna, melainkan distribusi manfaatnya yang tidak proporsional — kelompok atas mendapat porsi lebih besar dari kue yang membesar, sementara kelas menengah dan bawah mendapat irisan yang relatif mengecil.

Data Pendukung Regional

Tren Gini Ratio Nasional (2015–2025)

Sumber: BPS — Gini Ratio Indonesia (Perkotaan+Perdesaan, September tiap tahun). Tren menurun sejak 2015.

Apa itu Gini Ratio?

Gini Ratio adalah ukuran ketimpangan distribusi (0 = sempurna merata, 1 = satu orang menguasai semua). Interpretasi:

  • < 0,3 — Ketimpangan rendah
  • 0,3 - 0,4 — Ketimpangan sedang
  • 0,4 - 0,5 — Ketimpangan tinggi
  • > 0,5 — Ketimpangan sangat tinggi

Indonesia: 0,363 (Sept 2025) — termasuk "sedang", tapi ini hanya mengukur pengeluaran konsumsi. Gini kepemilikan aset/kekayaan jauh lebih tinggi.

Gini vs Kepemilikan Aset

Gini Ratio 0,363 mengukur distribusi pengeluaran konsumsi. Distribusi kepemilikan aset (tanah, saham, deposito) menunjukkan ketimpangan yang lebih tajam: 10% terkaya menguasai ~60,4% total kekayaan (WID 2024), sementara 50% terbawah hanya memiliki ~3-4% (Credit Suisse 2016). Perbedaan ini penting karena kepemilikan aset menentukan posisi struktural seseorang dalam ekonomi — bukan sekadar daya beli harian.

Gini Ratio per Provinsi

Rank Provinsi Gini Interpretasi
1Papua Selatan0,426Tinggi — disparitas sektor ekstraktif
2DKI Jakarta0,423Tinggi — konsentrasi sektor jasa & finansial
3DI Yogyakarta0,414Tinggi — struktur kepemilikan tanah historis
4Jawa Barat0,397Sedang-tinggi — kawasan industri padat karya
5Papua0,397Sedang-tinggi — sektor pertambangan skala besar
6Kep. Riau0,385Sedang — zona industri & perdagangan bebas
7Gorontalo0,383Sedang — sektor perkebunan dominan
8Papua Barat0,383Sedang — sektor ekstraktif & kehutanan
9Nusa Tenggara Barat0,364Sedang
10Papua Barat Daya0,361Sedang
11Jawa Timur0,359Sedang
12Sulawesi Tenggara0,357Sedang
13Jawa Tengah0,350Sedang
14Sulawesi Selatan0,350Sedang
15Papua Pegunungan0,347Sedang
16Sulawesi Utara0,341Sedang
17Papua Tengah0,340Sedang
18Bengkulu0,339Sedang
19Bali0,333Sedang
20Nusa Tenggara Timur0,322Sedang
21Banten0,312Sedang
22Kalimantan Timur0,310Sedang
23Kalimantan Barat0,308Sedang
24Sulawesi Barat0,308Sedang
25Riau0,304Sedang
26Sumatera Selatan0,298Rendah
27Jambi0,291Rendah
28Lampung0,287Rendah
29Kalimantan Tengah0,284Rendah
30Sumatera Utara0,283Rendah
31Kalimantan Selatan0,281Rendah
32Sumatera Barat0,280Rendah
33Sulawesi Tengah0,277Rendah
34Maluku Utara0,275Rendah
35Aceh0,274Rendah
36Maluku0,273Rendah
37Kalimantan Utara0,251Rendah
38Kep. Bangka Belitung0,214Rendah — paling merata

Sumber: BPS Web API — Gini Ratio Menurut Provinsi, Perkotaan+Perdesaan, September 2025

Kemiskinan per Provinsi — Total: 23,36 Juta Jiwa

Sumber Data (klik untuk buka)
  • Badan Pusat Statistik (BPS) — Susenas September 2025: Penduduk miskin 23,36 juta jiwa (8,25%)
  • BPS Web API — Data var 185 & var 192, th 125 (2025)
  • Kemendagri RI — Registrasi Penduduk 2025: 288.315.089 jiwa
  • Mandiri Institute — "Dinamika Kelas Menengah di 2025" (Feb 2026)
  • World Bank — "Aspiring Indonesia - Expanding the Middle Class" (2024)
  • Wikipedia — Demographics of Indonesia
  • Bank Dunia — Definisi kelas menengah: Rp 1,2jt - Rp 6jt/kapita/bulan
  • Forbes Indonesia Rich List 2025 — Data kekayaan konglomerat
  • Oxfam Indonesia 2017 — Ketimpangan kekayaan, metodologi Credit Suisse wealth distribution
  • World Inequality Database (WID) — Distribusi pendapatan & kekayaan Indonesia 2024
  • IMF — Indonesia Country Data, outlook ekonomi makro
  • Wikipedia — Data kepemilikan aset konglomerat Indonesia